Indramayu//insanpenarakyat.com – Jejak peradaban Islam di Indramayu mungkin jarang ditemukan di buku-buku besar, melainkan di bangunan-bangunan tua yang tetap setia berdiri. Masjid Darussajidin di Desa Bondan adalah salah satunya.
Merupakan pusaka arsitektur tertua di Kabupaten Indramayu, masjid ini menyimpan narasi panjang tentang dakwah dan keteguhan iman yang telah mendarah daging di masyarakat Sukagumiwang selama berabad-abad. Menurut buku Direktori Masjid Bersejarah dan Ternama di Kabupaten Indramayu Tahun 2005 yang disusun oleh Tim Peneliti Data Masjid Bersejarah dan Ternama di Kabupaten Indramayu tahun 2005, masjid yang lebih dikenal dengan nama Masjid Kuno Bondan itu didirikan pada 1414 M atau abad ke-15.
Itu berarti, bangunan masjid itu sudah ada jauh sebelum terbentuknya Pemerintahan di Indramayu pada 1527, maupun awal Cirebon yang dibentuk pada 1480. Tak heran, jika pada 2022, masjid tersebut resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya di tingkat kabupaten.
Pendiri Masjid Kuno Bondan adalah seorang penyebar agama Islam bernama Syeh Datul Kahfi. Konon, ulama besar itu mendirikan masjid tersebut hanya dalam waktu satu malam.
Selain mendirikan masjid, Syeh Datul Kahfi juga membuat bedug yang terbuat dari kayu sida gurih. Jika bedug tersebut ditabuh, maka suaranya konon bisa terdengar sampai ke keraton Cirebon.
Warga setempat juga kerap menyebut masjid itu dengan sebutan Masjid Sapuangin. Nama tersebut merujuk pada kemampuan spiritual Syekh Dzatul Kahfi yang disebut memiliki ilmu Sapu Angin.
“Masjid Kuno Bondan dulunya berfungsi sebagai pusat dakwah, tempat masyarakat belajar agama Islam sekaligus membangun peradaban baru,” ujar Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Indramayu, Dedy S Musashi, Jumat (27/2/2026).
Masjid Kuno Bondan memiliki beragam keunikan yang berbeda dengan masjid-masjid lainnya. Di antaranya, masjid terbuat dari bahan kayu jati dan berbentuk masjid panggung. Masjid tersebut memiliki segi ornamen bangunan dengan denah bujur sangkar.
Seluruh bagian kayu bangunan masjid dirangkai menggunakan sistem pasak, tanpa menggunakan paku besi. Meski demikian, masjid tersebut masih berdiri dengan kokoh.
Keunikan lain dari Masjid Kuno Bondan terletak pada dinding di sebelah selatan dan utara, yang memiliki enam jendela namun tanpa daun jendela. Masjid itu juga beratapkan tumpang satu dan memiliki mamolo pada puncak atap yang menjadi ciri khas bangunan Jawa.
Di dalam masjid, terdapat 16 tiang dengan ornamen klasik perpaduan budaya lokal dan Islam. Dari jumlah tersebut, empat tiang diantaranya berfungsi sebagai saka guru.
Dengan material yang didominasi oleh kayu, bangunan Masjid Kuno Bondan sangat rentan terhadap cuaca. Karenanya, pada 2024, Pemkab Indramayu bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) IX Jawa Barat melakukan pemugaran intensif.
Fokus perbaikan meliputi penggantian atap sirap dan pembersihan kimiawi pada bagian memolo agar terhindar dari pelapukan. Selain itu, dilakukan pula pendataan ulang dan penelitian menyeluruh terhadap struktur kayu masjid, untuk memastikan keaslian bangunannya tetap terjaga.
Masjid Kuno Bondan hingga kini masih berperan penting sebagai pusat aktivitas ibadah warga setiap hari. Apalagi pada bulan Ramadhan seperti sekarang.
Juru pelihara Masjid Kuno Bondan, Mastara, mengatakan, berbagai kegiatan ibadah dilaksanakan di bulan Ramadhan ini, mulai dari Sholat Tarawih, tadarus Alquran, anak-anak belajar mengaji, dan lainnya. “Kalau sore juga ada bazaar Ramadhan dan buka puasa bersama,” ujar Mastara.
Ia mengatakan seusai Tarawih dan tadarus, tak sedikit warga yang tetap berkumpul sambil bercengkerama di serambi masjid. Hal itu mereka lakukan bahkan hingga jelang sahur.
โMasjid ini merupakan kebanggaan masyarakat Desa Bondan,โ kata dia.
(AH)




